24 Maret 2016

Si Manau dan Si Inang

Manau namanya, berdiri menjulang dari kegelapan kanopi yang dingin. Hanya sedikit sinar matahari yang menembus tempat berpijak. Matanya yang hijau sedikit gelap menatap celah kecil yang menerangi. Rimbun dedaunan membuatnya lugu tak tahu kabar, menjadikannya bertanya "apa yang ada di atas sana?".

Si Manau sejak kecil hidup sendiri, dari buah usaha yang tak kenal lelah terhadap perubahan musim yang menerpa. Usaha yang membuatnya bernilai tinggi dan produktif. Si Manau pun akan demikian. Mengikuti jejak pendahulu yang bercerita banyak tentang hijau-birunya semesta. Menampik segala macam belenggu kegelapan, dan beranjak menuju alam terang-benderang.

Si Manau dalam cerita ini adalah ia yang tinggal di pedalaman Kalimantan, tepatnya di sekitar Air Terjun Rampah Menjangan Loksado yang dikenal dengan sebutan Paikat Manau (Rotan Manau).

Rotan Manau (Calamus manan Miq.)

Dalam kajian Biologi, Rotan Manau yang tinggal di sekitar air terjun Rampah Menjangan memiliki ciri-ciri habitus berupa liana. Susunan akar serabut berwarna coklat dengan bercak putih. Arah tumbuhnya memanjat ke atas pada inang. Batangnya tidak bercabang. Diameter batang yang masih ditutupi oleh pelepah ialah 3,2 cm, sedangkan diameter batang tanpa pelepah 2 cm. Panjang ruas buku batang ialah 1,5 – 2 cm pada bagian dekat akar dan 35 cm pada bagian tengah. Pelepah batang ditumbuhi oleh duri yang berbentuk runcing, panjang duri antara 2 – 3 cm dan lebar dasar duri 0,5 cm. Duri tumbuh dengan pola penyebaran yang rapat, duri yang satu dengan yang lain tumbuh saling sambung-menyambung dengan arah spiral sehingga terlihat seperti melingkari batang. Bentuk batang bulat dan batang berwarna kuning muda.
Ciri khususnya dari rotan manau ialah memiliki alat flagellum yang berukuran besar dan kuat. Terdapat pelepah pelindung pada bagian bawah alat panjat. Duri pada alat panjat bisa terdiri atas 3 – 5 pada satu titik tumbuhnya duri. Duri mengarah ke pangkal alat panjat, berwarna hijau hingga kehitaman.
Rotan manau memiliki daun majemuk menyirip dengan letak anak daun berselang-seling dan kadang berpasangan. Bentuk anak daun adalah lanset hingga ada juga yang berbentuk memanjang. Tepi anak daun rata, permukaan daun licin, pelepah dan tangkai daun ditumbuhi duri, dan urat anak daun letaknya sejajar yang di atasnya ditumbuhi duri. Ujung daun mengeluarkan cirrus berduri yang juga tersusun atas 3 – 5 duri pada satu titik tumbuhnya duri. Panjang daun 2 m, lebar daun 80 cm, panjang anak daun 35 – 40 cm, dan lebar anak daun 10 – 15 cm. Sedangkan bunga dan buah tidak ditemukan di kawasan tersebut.


Si Manau dalam semasa hidupnya akan terus berusaha. Membangun asa yang tumbuh sebagai budaya. Mengejar impian yang menjadi warna pikiran dan hatinya, yang menjadi pencetus geraknya menuju cahaya. Tetapi, semakin tinggi dia berusaha, semakin lemah tubuhnya untuk tetap berdiri. Seakan gemetar dan angin semakin kencang, semakin dia mendekati kata menyerah... Disitulah dia datang, dia yang kuat dan kokoh berdiri. Dia yang selama ini seperti penghalang bagi Si Manau untuk bebas, dan ternyata dialah penyelamat Si Manau dan pendahulunya. Dia yang menjadi pegangan untuk terus berdiri, untuk terus bangkit dan menemukan semua cerita. Meneguhkan Si Manau untuk temukan arti dari cahaya kecil yang menembus celah-celah atap kediamannya dan cerita-cerita oleh para pendahulunya. Dialah Si Inang yang menggunakan kekuatannya untuk kebaikan Si Manau yang ada di dekatnya.