08 April 2016

Pandangan Ekologis terhadap Pembaharuan Kawasan Hutan Kalimantan

Aktivitas manusia dalam upaya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dapat menjadi ancaman besar bagi keberadaan makhluk hidup lain di sekitarnya jika tidak memperhatikan lingkungannya dalam pandangan ekologis. Meningkatnya kepadatan penduduk di dunia searah dengan meningkatnya kebutuhan hidup yang harus dipenuhi. Salah satu upaya manusia yang tidak dapat dibenarkan adalah pembukaan lahan besar-besaran. Hutan digundul untuk keperluan industri, perkebunan dan lain sebagainya dengan dalih agar mampu memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Selain itu, satwa liar seperti ular ataupun harimau yang masuk ke pemukiman ditembak karena dianggap hama dan mengancam keselamatan.
Seperti halnya hutan Kalimantan. Iklim tropis merupakan kondisi terbaik yang dapat dihuni oleh banyak sekali makhluk hidup, baik dari makhluk hidup tingkat terendah hingga makhluk hidup tingkat tinggi.  Wajar saja jika di hutan Kalimantan ditemukan beranekaragam vegetasi dan beranekaragam satwa. Hutan hujan tropis juga sangat penting bagi kemelimpahan suatu spesies dan endemisme.Secara global hutan Kalimantan diperkirakan dihuni oleh lebih banyak spesies tumbuhan dibandingkan dengan daerah lain. Bahkan, lebih dari sepertiga perkiraan seluruh tumbuhan sebanyak 10.000 sampai 15.000 spesies hanya dapat ditemukan di pulau Kalimantan. Semakin banyaknya kawasan hutan yang rusak dan bahkan hilang, maka semakin besar pula ancaman kepunahan bagi spesies-spesies yang menghuni daerah tersebut.
Hutan Pegunungan Meratus Kalimantan
Keadaan demikianlah yang membuat hutan Kalimantan menjadi salah satu paru-paru dunia karena penutupan hutannya yang sangat luas. Namun, maraknya deforestasi yang terjadi dari tahun ke tahun menyebabkan luas hutan Kalimantan menurus drastis. Berdasarkan data Statistik Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan tahun 2013-2014,  luas total hutan Kalimantan pada tahun 2013 adalah 36,8 juta hektar dan pada tahun 2014 menjadi 36,5 juta hektar. Penurunan luas tutupan hutan di Kalimantan diantaranya disebabkan oleh adanya pembukaan lahan, baik melalui penebangan pohon maupun pembakaran hutan. Aktivitas tersebut tentunya akan berdampak terhadap kehidupan di dalamnya.
Penurunan tutupan hutan menyebabkan menurunnya kemelimpahan dan keanekaragaman vegetasi dan satwa di dalamnya. Beberapa spesies satwa mungkin akan bertahan dengan bermigrasi ke daerah lain dan menetap pada habitat baru yang seragam. Namun, kecil kemungkinan proses migrasi akan berhasil. Migrasi hanya akan berhasil jika spesies tersebut bisa bergerak lebih cepat dari kerusakan yang terjadi di habitat lamanya dan beradaptasi pada habitat baru, tersedia cukup energi dalam proses migrasi, dan dapat bertahan hidup dari seleksi alam yang terjadi selama proses migrasi karena perubahan komposisi komunitas akan mengubah struktur fungsional pada suatu ekosistem yang dapat memunculkan kembali proses seleksi.
Melihat keadaan lingkungan sekarang muncul upaya untuk memperbaharui hutan-hutan yang terbuka. Kegiatan rehabilitasipun dilakukan sebagai upaya untuk memulihkan kembali hutan-hutan yang telah gundul. Akan tetapi, kondisi hutan tidak akan pulih sepenuhnya. Secara kuantitas mungkin dengan lebih mudah keadaan hutan dapat dikembalikan seperti sedia kala, namun secara kualitasnya sangat sulit untuk dipulihkan. Sebagai contoh, Sempidan Kalimantan (Lophura bulweri) merupakan spesies endemik di Kalimantan. Bentuknya mirip seperti ayam-hutan, biasanya hidup di hutan primer ataupun hutan sekunder perbukitan dengan ketinggian tempat mencapai 1.600 mdpl di semua kawasan. Status kelangkaannya adalah rentan punah karena keberadaannya yang mulai jarang ditemukan. Beberapa kemungkinan yang akan terjadi jika hutan tempat tinggalnya digundul adalah spesies tersebut akan bergerak ke daerah lain untuk menemukan habitat baru, atau spesies tersebut mati. Akan sangat sulit untuk mengembalikan keberadaan spesies tersebut ke habitat asalnya meskipun habitat yang rusak telah diperbaharui. Dengan demikian, spesies yang menempati bukanlah semua spesies asli yang pada mulanya tinggal pada habitat tersebut. Hal inilah yang menyebabkan kualitas ekosistemnya sangat sulit bahkan tidak bisa untuk dipulihkan.
Suatu ekosistem khas mencirikan struktur fungsional yang tidak ditemukan di daerah lain, dan tidak dibenarkan jika diubah menjadi ekosistem baru dengan tujuan apapun. Manusia harus memperhitungkan keadaan ekosistem yang sedang berlangsung sebelum melakukan pembukaan tutupan hutan. Ekosistem akan terganggu dengan aktivitas baru, apalagi jika aktivitas tersebut mendominasi kawasan tempat ekosistem berlangsung. Habitat yang sangat tua akan memberikan dukungan yang lebih baik bagi penghuni tua di dalamnya. Hal ini karena hubungan timbal balik suatu makhluk hidup dan lingkungannya sudah terjadi sangat lama, yaitu dalam kurun waktu puluhan bahkan ribuan tahun, sehingga terbentuk kekhasan ekosistem pada kawasan tersebut. Jika habitat itu dirusak, maka hal tersebut akan berdampak buruk bagi ekosistem yang telah berlangsung di dalamnya. Dengan demikian, akan memerlukan waktu lama dan bahkan sangat sulit untuk memulihkannya kembali, dan hanya yang mampu beradaptasilah yang akan bertahan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar