Aktivitas
manusia dalam upaya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dapat menjadi ancaman
besar bagi keberadaan makhluk hidup lain di sekitarnya jika tidak memperhatikan
lingkungannya dalam pandangan ekologis. Meningkatnya kepadatan penduduk di
dunia searah dengan meningkatnya kebutuhan hidup yang harus dipenuhi. Salah
satu upaya manusia yang tidak dapat dibenarkan adalah pembukaan lahan
besar-besaran. Hutan digundul untuk keperluan industri, perkebunan dan lain
sebagainya dengan dalih agar mampu memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Selain
itu, satwa liar seperti ular ataupun harimau yang masuk ke pemukiman ditembak
karena dianggap hama dan mengancam keselamatan.
Seperti halnya
hutan Kalimantan. Iklim tropis merupakan kondisi terbaik yang dapat dihuni oleh
banyak sekali makhluk hidup, baik dari makhluk hidup tingkat terendah hingga makhluk
hidup tingkat tinggi. Wajar saja jika di
hutan Kalimantan ditemukan beranekaragam vegetasi dan beranekaragam satwa. Hutan
hujan tropis juga sangat penting bagi kemelimpahan suatu spesies dan endemisme.Secara
global hutan Kalimantan diperkirakan dihuni oleh lebih banyak spesies tumbuhan
dibandingkan dengan daerah lain. Bahkan, lebih dari sepertiga perkiraan seluruh
tumbuhan sebanyak 10.000 sampai 15.000 spesies hanya dapat ditemukan di pulau
Kalimantan. Semakin banyaknya kawasan hutan yang rusak dan bahkan hilang, maka
semakin besar pula ancaman kepunahan bagi spesies-spesies yang menghuni daerah
tersebut.
Keadaan
demikianlah yang membuat hutan Kalimantan menjadi salah satu paru-paru dunia
karena penutupan hutannya yang sangat luas. Namun, maraknya deforestasi yang
terjadi dari tahun ke tahun menyebabkan luas hutan Kalimantan menurus drastis. Berdasarkan
data Statistik Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan tahun 2013-2014, luas total hutan Kalimantan pada tahun 2013
adalah 36,8 juta hektar dan pada tahun 2014 menjadi 36,5 juta hektar. Penurunan
luas tutupan hutan di Kalimantan diantaranya disebabkan oleh adanya pembukaan
lahan, baik melalui penebangan pohon maupun pembakaran hutan. Aktivitas
tersebut tentunya akan berdampak terhadap kehidupan di dalamnya.
![]() |
| Hutan Pegunungan Meratus Kalimantan |
Penurunan
tutupan hutan menyebabkan menurunnya kemelimpahan dan keanekaragaman vegetasi
dan satwa di dalamnya. Beberapa spesies satwa mungkin akan bertahan dengan
bermigrasi ke daerah lain dan menetap pada habitat baru yang seragam. Namun,
kecil kemungkinan proses migrasi akan berhasil. Migrasi hanya akan berhasil
jika spesies tersebut bisa bergerak lebih cepat dari kerusakan yang terjadi di
habitat lamanya dan beradaptasi pada habitat baru, tersedia cukup energi dalam
proses migrasi, dan dapat bertahan hidup dari seleksi alam yang terjadi selama
proses migrasi karena perubahan komposisi komunitas akan mengubah struktur
fungsional pada suatu ekosistem yang dapat memunculkan kembali proses seleksi.
Melihat
keadaan lingkungan sekarang muncul upaya untuk memperbaharui hutan-hutan yang
terbuka. Kegiatan rehabilitasipun dilakukan sebagai upaya untuk memulihkan kembali
hutan-hutan yang telah gundul. Akan tetapi, kondisi hutan tidak akan pulih
sepenuhnya. Secara kuantitas mungkin dengan lebih mudah keadaan hutan dapat
dikembalikan seperti sedia kala, namun secara kualitasnya sangat sulit untuk
dipulihkan. Sebagai contoh, Sempidan Kalimantan (Lophura bulweri) merupakan spesies endemik di Kalimantan. Bentuknya
mirip seperti ayam-hutan, biasanya hidup di hutan primer ataupun hutan sekunder
perbukitan dengan ketinggian tempat mencapai 1.600 mdpl di semua kawasan.
Status kelangkaannya adalah rentan punah karena keberadaannya yang mulai jarang
ditemukan. Beberapa kemungkinan yang akan terjadi jika hutan tempat tinggalnya
digundul adalah spesies tersebut akan bergerak ke daerah lain untuk menemukan
habitat baru, atau spesies tersebut mati. Akan sangat sulit untuk mengembalikan
keberadaan spesies tersebut ke habitat asalnya meskipun habitat yang rusak
telah diperbaharui. Dengan demikian, spesies yang menempati bukanlah semua
spesies asli yang pada mulanya tinggal pada habitat tersebut. Hal inilah yang
menyebabkan kualitas ekosistemnya sangat sulit bahkan tidak bisa untuk
dipulihkan.
Suatu
ekosistem khas mencirikan struktur fungsional yang tidak ditemukan di daerah
lain, dan tidak dibenarkan jika diubah menjadi ekosistem baru dengan tujuan
apapun. Manusia harus memperhitungkan keadaan ekosistem yang sedang berlangsung
sebelum melakukan pembukaan tutupan hutan. Ekosistem akan terganggu dengan
aktivitas baru, apalagi jika aktivitas tersebut mendominasi kawasan tempat
ekosistem berlangsung. Habitat yang sangat tua akan memberikan dukungan yang lebih
baik bagi penghuni tua di dalamnya. Hal ini karena hubungan timbal balik suatu
makhluk hidup dan lingkungannya sudah terjadi sangat lama, yaitu dalam kurun
waktu puluhan bahkan ribuan tahun, sehingga terbentuk kekhasan ekosistem pada
kawasan tersebut. Jika habitat itu dirusak, maka hal tersebut akan berdampak
buruk bagi ekosistem yang telah berlangsung di dalamnya. Dengan demikian, akan
memerlukan waktu lama dan bahkan sangat sulit untuk memulihkannya kembali, dan
hanya yang mampu beradaptasilah yang akan bertahan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar